Search This Blog

REMEMBERING OUR PRECIOUS DAUGHTER, HARRIETT ELIZABETH TEJALAKSANA (June. 27, 2015)

Benaiah is already with us. He is so precious boy.

Saturday, December 19, 2009

Konseling ANAK dengan Terapi Bermain (Play Therapy)


SERI KONSELING ANAK
KONSELING ANAK DENGAN METODE PLAY THERAPY

Oleh: Rudy Tejalaksana, M.K.

PENDAHULUAN
Saya tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan belajar di kelas terapi anak. Banyak sekali hal baru dan penuh inspirasi, yang akan sangat berguna bagi pelayanan saya, khususnya dalam melayani anak jalanan di kota Surabaya. Terima kasih untuk Dr. Vivian Soesilo (Queensland University), yang dengan sabar dan penuh semangat mengajar saya memahami mengenai konseling anak. Terpujilah Tuhan Yesus, untuk semua hal indah yang Tuhan rancangkan bagi hidup kita, khususnya anak-anak yang kita layani. Terpujilah Tuhan Yesus selamanya.


KONDISI DAN KEBUTUHAN ANAK-ANAK
Jumlah anak-anak di seluruh dunia adalah jumlah mayoritas dari seluruh keluarga manusia. Lebih dari 50 % jumlah manusia di seluruh dunia ini adalah anak-anak (usia 0-15 tahun). Jika jumlah manusia di seluruh dunia mencapai 6,5 Milyar manusia, maka di seluruh dunia, ada + 3 Milyar jumlah anak-anak di seluruh dunia. Namun, anak-anak adalah warga kelas 2 dalam susunan masyarakat hampir di semua tempat di seluruh dunia. Anak-anak selalu menjadi prioritas kesekian, setelah orang dewasa. Demikian halnya di dalam pelayanan pastoral. Seringkali pelayanan kepada anak-anak bukanlah pelayanan yang menjadi prioritas, bahkan terlupakan. Bahkan untuk pelayanan pastoral pun, anak-anak tidak mendapat pelayanan yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Anak-anak terlantar secara pastoral. Cobalah telaah sebuah contoh sederhana. Bila di dalam satu keluarga ada anggota keluarga yang meninggal dunia, siapa yang anak mendapat pelayanan pastoral pertama dan terutama ? orang-orang dewasa. Seringkali anak-anak dipandang belum mengerti banyak hal, belum sadar banyak hal, dan sering terlihat baik-baik saja. Padahal sebenarnya tidak demikian. Mereka memiliki perasaan dan pikiran yang hampir sama dengan orang dewasa ketika menghadapi krisis. Kenyataan ini seharusnya membuat kita menyadari bahwa pelayanan konseling pastoral kepada anak menjadi sesuatu yang mendesak untuk dilakukan.
Konseling anak adalah usaha pastoral untuk menolong anak menghadapi masalah yang dihadapi anak dan menemukan cara berpikir dan tingkah laku yang baru terhadap masalah yang dihadapinya tersebut.


KETERLIBATAN KELUARGA DALAM KONSELING ANAK
Dalam konseling yang efektif, peran orang tua dan orang-orang terdekat sangatlah penting dan menentukan keberhasilan pertolongan kepada anak. Oleh sebab itu, konseling anak seringkali dimulai dengan terapi keluarga terlebih dahulu. Terapi anak tanpa terapi keluarga, anak akan menjadi fokus masalah (kambing hitam) padahal peran orang tua dalam masalah yang dihadapi anak sangat besar. Namun jika konselor hanya memberi terapi keluarga tanpa adanya terapi pribadi kepada anak, anak sulit ditolong untuk mencari penyelesaian terhadap masalah yang dihadapi. Pihak-pihak yang terlibat adalah pihak-pihak yang ada hubungannya dengan anak, yang memperhatikan dan berpengaruh dalam hidupnya. Oleh sebab itu, konseling anak (dan remaja) seringkali dipandang jauh lebih kompleks dibanding konseling-konseling lainnya.


TERAPI BERMAIN DALAM KONSELING ANAK
Salah satu metode yang sangat efektif yang sering dipakai di dalam konseling anak adalah terapi bermain (Play Therapy). Setidaknya ada lima alasan mengapa konselor anak menggunakan terapi bermain dalam menolong anak-anak. Pertama: pemecah es hubungan konselor – anak. Kedua: Menolong usaha konselor lebih memahami anak yang ditangani. Ketiga: Menolong anak menyatakan secara nonverbal sesuatu yang sulit diungkapkan anak. Keempat: Menolong anak bertumbuh dan sadar akan masalah yang dihadapi sehingga dapat menemukan jalan keluar. Kelima: Usaha melatih anak melakukan suatu ketrampilan yang dahulu tidak dapat dilakukannya. Penggunaan terapi bermain sudah sangat terbukti sangat efektif dalam pemberian pertolongan pastoral kepada anak-anak.


PROSES KONSELING ANAK
Hampir semua anak yang datang ke ruang konseling dibawa oleh orang lain, baik itu orang tua, atau pihak-pihak lain yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anak. Oleh sebab itu, anak-anak yang datang ke ruang konseling seringkali tidak siap, atau bahkan enggan menceritakan masalah yang sedang dihadapinya saat itu. Oleh sebab itu, konselor harus benar-benar mempersiapkan segala sesuatu, khususnya kesiapan hati untuk menjalin hubungan (relationship) dengan anak yang datang kepadanya.


Langkah Persiapan
Ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh konselor sebelum sesi pertama konseling berlangsung. 
Pertama: Konselor perlu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai anak, kondisinya, keadaan keluarga, nilai-nilai hidupnya, pergaulannya, dan sebagainya dari orang-orang yang hidup di sekitar anak itu, misalnya: keluarga, pengasuh, dan sebagainya. Semakin banyak informasi yang diperoleh anak semakin membantu keefektifan konseling dan dalam penetapan goal / tujuan konseling berikutnya. 
Kedua: Konselor perlu menegaskan kontrak dengan orang tua. Orang tua harus menyadari dan terlibat di dalam seluruh proses konseling, khususnya dalam rangka menolong anak di rumah. Ketiga: Konselor perlu memilih media konseling yang tepat sesuai dengan kebutuhan, karakter, dan kesukaan anak. Hal ini akan sangat mempengaruhi kesiapan anak untuk menceritakan masalah dan dibantu dalam rangka menghadapi dan menyelesaikan masalah.


Langkah konseling
Fase pertama: Client Centered Psychotherapy. Langkah awal disebut sebagai joining, yaitu konselor mulai menjalin hubungan yang akrab dan dengan dekat dengan anak. Dalam Tujuan utama joining adalah untuk membangun rasa aman sehingga pelan-pelan anak mulai membuka dirinya dan masalah yang dihadapi. Keberhasilan joining dimulai dari pertemuan pertama. Semakin baik kesan anak terhadap konselor diawal konseling akan mempengaruhi seluruh proses konseling berikutnya. Dalam pertemuan awal ini, mungkin akan banyak kejutan, hal yang mengagetkan kita. Namun yang paling penting adalah stick to the focus of counseling. Dalam proses joining, konselor dapat menggunakan media yang dapat membantu anak untuk membuka dirinya. Media yang paling sering dipakai untuk proses joining adalah miniatur binatang (akan dijelaskan pada poin di bawah). Konselor perlu melakukan banyak observasi terhadap segala sesuatu yang dilakukan, dikatakan, dipikirkan, anak. Konselor juga perlu mendengar dengan penuh perhatian terhadap anak. Dalam berbicara dengan anak, konselor harus menghindarkan kesan menginterview anak dengan memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Ketika berbicara dengan anak, konselor sebaiknya menggunakan statement (kalimat berita) yang berisi affirmasi dan beri feedback untuk setiap hal yang dibicarakan anak. Ketika konselor ingin bertanya, hindari pengunaan kata tanya ”mengapa”. Gunakan pertanyaan terbuka (open question), yang mengijinkan anak bercerita lebih banyak. Konselor perlu bertanya beberapa kali untuk satu hal yang diceritakan anak, agar anak dapat bercerita lebih banyak lagi pokok pembicaraannya. Ijinkan anak berbicara apa yang ingin dia bicarakan. Konselor harus berhati-hati terhadap fokus kepada agenda pribadi konselor. Setelah anak berbicara dengan terbuka dan konselor mulai menangkap problem utama yang sedang dihadapi, konselor perlu menetapkan goal / tujuan spesifik dari proses konseling. Hal ini akan membuat konselor lebih efektif menolong anak.

Fase kedua: Gestalt Therapy. Setelah anak menceritakan masalah yang dihadapi dalam fase pertama, konselor perlu menolong anak untuk masuk ke dalam emosinya berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi. Kita perlu menolong anak untuk release the emotion, tentang kesedihannya, kemarahannya, perasaan ditolaknya, dan mengijinkannya untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak dilakukannya; misalnya berteriak dengan suara keras, meremas-remas sesuatu (media yang disediakan). Media yang paling sering digunakan dalam fase ini adalah sand tray atau clay. Media ini menolong anak untuk dapat mengeluarkan emosi-emosi negatif yang mungkin selama ini tersembunyi namun terus dirasakan anak. Setelah proses pelepasan emosi, anak mungkin akan mengalami kelegaan dan cenderung lebih positif. Setelah anak masuk ke dalam keadaan itu, konselor dapat melanjutkan konseling ke fase berikutnya.

Fase ketiga: Narative therapy. Dalam fase ini, konselor menolong anak melakukan rekonstruksi mengenai apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Dalam fase ini, konselor menolong anak untuk melihat masalah yang dihadapi dengan cara yang berbeda (dari sudut yang berbeda dan lebih positif). Penekanan semua pendekatan adalah strength based. Dalam fase ini, Pertama: konselor menolong anak dengan melakukan rekonstruksi cerita, dan membuat cerita baru (dari hal yang sama namun dengan sudut pandang yang lebih positif) dari kisah yang sudah diceritakan anak. Kedua:Konselor menolong anak melakukan proses eksternalisasi, yaitu menolong anak menaruh masalah di luar dirinya, dan melihatnya dengan perspektif yang berbeda. Ketiga: Pola lain yang sering dilakukan adalah pengecualian (exception), yaitu ketika anak berulang-ulang menggunakan kata-kata tertentu, misalanya: selalu, tidak pernah, tiap kali, dan sebagainya. Pengecualian membuat anak melihat, bahwa di dalam hal yang negatif, tetap ada hal yang positif. Keempat: Konselor menggunakan scalling Question,untuk mengukur tingkat masalah yang dihadapi (dipikirkan atau dirasakan) anak. Kelima: Konselor dapat menggunakan Miracle Question, mengenai kemungkinan keadaan anak bila masalah yang dihadapinya hilang atau tidak ada lagi. Semua pendekatan ini akan sangat menolong anak untuk melihat sesuatu dengan lebih positif dan mengandung harapan untuk berubah. Persepsi yang berubah akan menolong anak untuk mengubah tingkah lakunya berkaitan dengan hal itu.
Media yang paling sering digunakan dalam fase ini adalah penggunaan Sand tray dan clay / malam / tanah liat, yang juga sangat menolong anak untuk deal dengan perasaan dan pola berpikirnya,

Fase keempat: Cognitive Behaviour Therapy. Setelah menemukan masalah utama, deal dengan perasaannya kepada hal itu, dan melihat masalah itu secara berbeda dan positif, sekarang konselor perlu menolong anak untuk memutuskan orang seperti apa yang diinginkan oleh anak. Seringkali anak yang mengalami masalah mengganggap bahwa dialah yang menyebabkan masalah terjadi. Hal ini tentu sangat merusak cara dia berpikir mengenai dirinya sendiri. Banyak keyakinan yang salah mengenai diri yang dibangun dari rasa bersalah ini. Oleh sebab itu, konselor perlu menolong mengubah unhelpful belief (destructive beliefs) mengenai dirinya sendiri. Metode yang sering digunakan dalam fase ini adalah menggambar fruit tree.. Dalam hal ini, anak disadarkan bahwa ada banyak pilihan yang harus diputuskannya, khususnya mengenai dirinya sendiri, khususnya untuk keinginannya dan harapannya menjadi seseorang yang diinginkannya untuk hidup secara sehat dan benar. Pilihannya akan sangat mempengaruhi akan jadi seperti apa dirinya setelah konseling selesai

Fase kelima: Behaviour Therapy. Dalam fase ini, konselong menolong anak berlatih ketrampilan baru yang dibutuhkannya untuk menjadi seorang seperti yang dipilihnya dalam fase kelima. Metode yang dapat menolong anak untuk belajar tingkah laku yang baru adalah comic strip atau worksheet. Tentu seorang anak sangat tidak mudah untuk langsung mempunyai tingkah laku baru yang diharapkan. Dia harus dilatih terlebih dahulu. Oleh sebab itu, konselor perlu menolong anak untuk belajar tingkah laku baru. Ruang konseling dapat digunakan sebagai ruang latihan, dan anak diminta untuk mempraktekkan langsung tingkah laku baru yang ingin dilakukannya kemudian. Untuk beberapa masalah yang dihadapi anak, misalnya kemarahan, anak ditolong untuk melakukan tindakan visualisasi langsung, dengan metode eksternalisasi (lihat fase 3) untuk mengatasi kemarahan

Fase keenam : terminasi. Setelah melihat, review dan memperbincangkan dengan anak dan orang tua, dan melihat kemajuan konseling yang sudah terjadi, konseling dapat diselesaikan dan doa kita perlu terus menyertai anak-anak itu, agar hanya tangan KUAT Tuhan yang selalu menjaga dan menguatkan mereka dalam semua pergumulan hidup yang akan dihadapi mereka di depan.
Ingat: peran orang tua dalam semua fase konseling anak sangatlah penting dan menentukan. Informasikan apa saja yang dibutuhkan orang tua untuk menolong anak dengan cara dan pola seperti yang kita harapkan terjadi di rumah. Komunikasi dengan orang tua memegang peranan yang sangat besar dalam hal ini.


DUA MASALAH YANG PALING SERING MUNCUL DALAM KONSELING:
Resistensi
Seringkali anak menolak untuk bekerja sama atau terbuka kepada konselor. Pada umumnya, mereka bukanlah menolak konselor. Mereka seringkali merasa tidak sanggup menghadapi kesedihan, sakit, luka, dan kemarahan mereka, sehingga mereka sering memilih untuk menghindar atau malah menjauhi konselor yang akan membantu mereka. Hal itu mereka lakukan untuk melindungi diri dan menghindari keadaan atau perasaan yang tidak nyaman. Seringkali beberapa tanda juga menyertai resistensi mereka, antara lain: Pertama: Regresi (kemunduran kemampuan). Kedua: Denial (menyangkali keadaan). Ketiga: Avoidance (menolak dan menghindari pembicaraan). Keempat: Repression (menekan / menyembunyikan) perasaan. Kelima: Projection (memproyeksikan perasaan kepada benda atau ke orang lain). Keenam: Rasionalisasi (Mengurangi perasaan tidak nyaman – cenderung unhelpful thought). Ketujuh: Reaction Formation (Tindakannya tidak sama dengan perasaan – tidak jujur). Kedelapan: Defence mechanism (mekanisme pertahanan). Kesembilan: defensive behaviour (melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang seharusnya dilakukan untuk mempertahankan diri). Hal yang dapat dilakukan konselor untuk anak yang melakukan resistensi adalah mengijinkan hal itu terjadi sebagai proses normal, perkuat joining, dan sabar menunggu sampai anak benar-benar siap untuk membuka dirinya. Jangan memaksa anak. Hal itu akan membuat anak semakin menghindar dan shut down terhadap kita. Gunakan feedback, beri validasi sampai dia mengerti bahwa konselor sangat mengerti keadaannya. Setelah itu, kembali lagi ke pergumulannya dengan pendekatan yang berbeda.

Transference
Konselor perlu benar-benar membereskan dirinya sendiri sebelum melayani anak-anak yang bermasalah. Jika konselor sendiri belum berdamai dengan diri dan keadaannya, konseling hanya akan memperburuk keadaan konselor maupun anak, karena konselor sendiri terjebak dengan keadaan dirinya sendiri, yang mungkin sangat mirip dengan apa yang dialami anak pada waktu itu.


PENGGUNAAN BEBERAPA MEDIA DALAM KONSELING ANAK
MINIATUR BINATANG
1.Sekumpulan binatang berbagai jenis (binatang buas, ternak, jinak, dinosaurus, binatang peliharaan, dll)
2.Benda-benda pendukung lainnya (misalnya pagar, dll) 

Langkah-langkah penggunaan Miniatur binatang dalam terapi anak:

1.Pilihlah binatang yang paling menyerupai / menggambarkan dirimu
2.Pilihlah biatang yang mewakili keluargamu, sekolahmu, dll
3.Susunlah binatang itu menurut kedekatan hubungan mereka
4.Bila ada satu binatang tidak ada (salah satu yang berpengaruh), apa yang terjadi ?
5.Susunlah binatang itu yang membuat semua yang di dalamnya merasa lebih bahagia. (akhiri konseling dengan sesuatu yang melegakan / membahagiakan)

SAND TRAY
1.Kotak pasir, pasir yang bersih dan berukuran lebih besar
2.Perlengkapan: benda-benda apa saja (yang akan dijadikan simbol / lambang )

Langkah-Langkah menggunakan Sand Tray dalam terapi anak:

1.Kumpulkan informasi penting mengenai apa yang sedang terjadi dalam diri anak (misalnya : perceraian, kematian, dll). Observasi cara anak bermain, cara meletakkan lambang, pemilihan lambang, emosinya, raut wajahnya, dan tema selama bermain.
2.Beri feedback dan gunakan open question untuk memancing anak bercerita lebih banyak mengenai apa yang sedang terjadi dengannya.
3.Beri dia kesempatan untuk menata mainan tersebut berdasarkan apa yang membuatnya lebih bahagia dibanding dengan apa yang telah terjadi.

CLAY
1.Clay, malam, tanah liat
2.tatakan untuk bermain malam (agar kebersihan tetap terjaga)
3.Benda-benda pendukung (alat untuk memotong, membentuk, mencetak, dll)

Langkah-Langkah menggunakan Clay dalam terapi anak:

1.Minta anak berteman dengan clay (dengan meminta mereka melakukan sesuatu; membuat bola, memipihkan, membuat ular, melingkarkan ke jari, dll). Ingat: observasi dan feedback
2.Meminta anak memilih bagian mana dari aktifitas tadi yang disukainya. Diperagakan lagi.
3.Minta dia membuat dirinya (bentuk apa saja kecuali bentuk asli manusia)
4.Coba minta mereka membuat anggota keluarga lain
5.Atur berdasarkan kedekatan. Minta dia merefleksi perasaannya.
6.Dengan clay, minta dia mengekspresikan perasaan (misalnya apa yang membuatnya marah, dll)
7.Minta anak berdiri, pegang clay yang melambangkan perasaannya. Katakan pada clay itu dengan suara keras (saya marah karena...), lempar clay ke bawah. Ingat: konselor harus tenang supaya situasi lebih terkendali
8.Atur posisi anggota keluarga yang membuatnya semua lebih bahagia
9.Tanyakan perasaannya sekarang
10.Konfirmasi: apa dia atau konselor yang beritahu orang tua mengenai apa yang perlu orang tua ketahui. Setelah itu mainan dapat dirapikan.

FRUIT TREE DRAWING

1.Kertas gambar, pensil dan krayon
2.kursi dan meja kecil untuk menggambar.
 
Langkah-Langkah menggunakan Fruit Tree drawing dalam terapi anak:
1.Minta anak menggambar sebuah pohon yang menggambarkan dirinya.
2.Dialog dengan anak mengenai gambar itu; misalnya mengenai pohon apa itu, apa hidup sendiri / bersama, bagaimana buahnya, apa yang terjadi dengan pohon itu, dll. Gunakan kata ganti orang pertama untuk bercerita mengenai pohon itu. Minta anak menceritakan lebih banyak tentang dirinya dan apa yang dipikirkan mengenai diri dan lingkungannya. Ingat: observasi dan feedback adalah hal krusial untuk menolong anak bercerita.

COMIC STRIP
1.Kertas dengan 3 kotak untuk menggambar
2.Alat gambar / warna
 
Langkah-Langkah menggunakan Comic Strip dalam terapi anak:
1.Untuk kotak pertama : minta anak menggambar apa yang sedang terjadi saat ini (sumber masalahnya).
2.Untuk kotak kedua : tindakan yang membuat anak terhindar dari masalah
3.Untuk kotak ketiga : apa yang dapat dilakukan untuk menolongnya terhindar dari problem yang timbul.
4.Penekanan: anak punya pilihan dan segala pilihan pasti ada konsekuensinya masing-masing.


PENUTUP
Anak-anak mengalami banyak krisis dalam kehidupan mereka. Keadaan mereka yang sakit, mengalami trauma, kelainan biologis, masalah patologis, dan sebagainya telah sampai kepada titik yang sangat mendesak untuk memperoleh pertolongan pastoral. Terapi bermain adalah salah satu metode yang sangat efektif untuk menolong anak mendapat pelayanan secara pastoral. Saya hanya berdoa, supaya Tuhan membangkitkan lebih banyak orang yang mencintai anak-anak, yang memberi diri mereka untuk membalut luka dan menolong anak untuk menemukan pertolongan, kasih sayang, penerimaan, dan sukacita di dalam Kristus. ”Terpujilah Engkau Tuhan. Engkau yang memanggil kami dan mengganggap kami layak untuk mengambil bagi dalam pekerjaan-Mu yang mulia. Biarlah Engkau saja yang terus membentuk dan memperlengkapi kami, menjadi seorang yang memberi diri bagi anak-anak yang terluka dan terpinggirkan disekitar kami. Biarlah setiap anak yang kami layani, menemukan Engkau dalam hidup kami, dan mengikuti teladan kami, memberi diri seluruhnya bagi Kristus yang mulia. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan”. (RT09)

Konseling untuk anak yang mengalami kekerasan fisik


SERI KONSELING ANAK

KONSELING UNTUK ANAK YANG MENGALAMI KEKERASAN FISIK
Oleh: Rudy Tejalaksana, MK.
PENDAHULUAN
Dunia anak-anak adalah dunia penuh sukacita, tawa dan kebahagiaan, penuh perlindungan, kasih sayang, rasa aman, dan kebutuhan yang terpenuhi. Bagi anak-anak, rumah adalah tempat mereka mengalami pengalaman dicintai dan dilindungi. Namun, dalam tahun-tahun belakangan ini, dunia seakan tidak lagi bersahabat dengan anak-anak. Begitu banyak anak yang tidak mengalami masa indah sebagai anak-anak. Bahkan berjuta-juta di antara mereka sudah lupa bagaimana menjadi anak-anak, bagaimana tertawa dan bermain dengan penuh riang, oleh karena kekerasan, luka, dan kesedihan yang mereka alami dalam hidup, justru di rumah mereka sendiri. Ketika saya melayani anak-anak di jalanan di kota Surabaya, saya menangkap begitu banyak kesedihan yang tersirat dalam canda tawa anak-anak. Angka statistik kekerasan terhadap anak telah menunjukkan keadaan yang gawat.1 Ratusan ribu anak mengalami kekerasan secara fisik dari keluarga terdekatnya (orang tua atau sanak keluarga). Ribuan anak mati karenanya. Bagi mereka yang berhasil selamat, trauma emosional akan membayangi hidup mereka, bahkan bertahun-tahun setelah kekerasan fisik mereka alami. Anak-anak ini terluka, terpinggirkan, diabaikan, dan mengalami trauma-trauma yang akan membayangi hidup mereka selamanya, kecuali ada tangan-tangan kasih yang terulur untuk menggapai dan melakukan sesuatu untuk mereka. Dr. Larry Crabb berkata:




Ketika orang diserang kejahatan mengerikan yang melawan Allah dan jiwa mereka sendiri, maka timbul ketakutan yang luar biasa dalam diri para korban, khususnya untuk mempercayakan diri kepada orang lain. Mendorong mereka untuk ”bersandar kepada Allah saja cenderung membangkitkan frustrasi dan menimbulkan sikap sinis terhadap fakta kebenaran Kristen...Tidak ada yang lebih penting dibanding melihat secara jelas bagaimana Injil Kristus yang disampaikan dengan kasih menyembuhkan hati dan memiliki kuasa untuk mengubah hidup seseorang dalam setiap pergumulan”.2




Salah satu cara menyampaikan Injil yang menyembuhkan itu dapat disampaikan adalah lewat pertolongan pribadi kepada anak. Penanganan dini terhadap anak-anak yang mengalami kekerasan fisik sangatlah penting untuk meminimalkan efek jangka panjang yang mungkin sekali timbul dari trauma masa kecil ini.3




DEFINISI KEKERASAN FISIK (PHYSICAL ABUSE)
The National Center on Child Abuse and Neglect (USA) mendefinisikan kekerasan fisik sebagai, “The physical injury or maltreatment or a child under the age of eighteen by a person who is responsible for the child’s welfare under circumstances which indicate that the child’s health or welfare is harmed or threatened thereby”.4 Umumnya orang yang melakukan kekerasan fisik terhadap anak adalah orang-orang yang dekat, yang seharusnya memberi perlindungan kepada mereka. Data statistik National Child Abuse and Neglect data system Amerika tahun 1997 menunjukkan bahwa 75 % pelaku kekerasan pada anak adalah orang tua mereka, 10% sanak keluarga dekat dan 2% dilakukan oleh orang-orang di sekitar kehidupan anak, misalnya: pengasuh, dokter, guru, dan sebagainya.5 Di Amerika ada 1.000 – 5.000 anak mati oleh karena kekerasan yang dilakukan orang tua mereka.6 Di Indonesia sendiri data semacam ini sulit diperoleh. Namun data di atas memberi informasi bagi kita betapa rentannya keadaan anak-anak yang hidup di zaman ini.

TANDA-TANDA ANAK YANG MENGALAMI KEKERASAN FISIK
Kekerasan fisik yang dialami anak-anak biasanya berhubungan dengan jenis abuse lain yang dialami mereka, khususnya kekerasan secara emosional (Emotional Abuse). Anak yang didapati mengalami kekerasan secara fisik umumnya adalah anak yang sudah cukup lama mengalaminya. Kekerasan fisik bukan hanya menyakitkan mereka secara fisik, namun juga secara emosional. Seringkali anak yang datang untuk mendapat pertolongan dari kekerasan fisik adalah anak yang dipenuhi dengan tanda-tanda luka fisik dan non fisik. Luka fisik seperti memar, patah tulang, geger otak, cacat permanen, bahkan kematian sering dijumpai pada pertolongan pertama kepada anak-anak korban kekerasan fisik. Namun demikian, tanda-tanda luka non fisik seringkali memberi pengaruh negatif yang jauh lebih besar daripada luka secara fisik. Dalam waktu relatif singkat, luka fisik anak-anak korban kekerasan fisik mulai dapat dipulihkan. Namun luka batin dan emosional mereka akan memberi pengaruh yang sangat dalam, yang cenderung akan merusak hidup akan itu di masa mendatang apabila anak tidak mendapat pertolongan yang dibutuhkan. Beberapa tanda yang muncul seperti kemarahan, ketakutan, kekuatiran, kegelisahan, rendah diri, konsep diri yang rusak, penolakan terhadap diri, tidak mampu mempercayai atau mengasihi orang lain, berperilaku agresif, destruktif dan cenderung ilegal. Bahkan untuk tahap-tahap tertentu, khususnya untuk anak-anak yang lebih besar, percobaan bunuh diri bahkan telah coba dilakukan sebelumnya. Depresi yang mendalam, perasaan sedih yang berkepanjangan, prestasi akademik yang merosot dan bahkan mimpi-mimpi buruk di malam hari sering mengisi hari-hari anak-anak ini. Sebagian anak menyimpan kepedihan dan luka itu dalam-dalam, sebagian mencari jalan keluar instant untuk deal with the pain lewat narkoba dan alkohol.7 Kerusakan secara emosional ini seringkali tidak muncul langsung pada masa anak-anak. Seringkali tanda-tanda di atas muncul pada saat anak menginjak usia remaja dan dewasa. Bahkan beberapa di antara anak yang mengalami kekerasaan dalam masa kecil kelihatannya tumbuh secara normal. Namun ketika menjadi orang tua, dia menjadi anak yang sangat abusive terhadap keluarga.8 Beberapa mengalami kesulitan masuk ke dalam hubungan interpersonal yang intim. Lainnya akan mengalami pergumulan emosional yang berat, yang berakibat kelumpuhan secara emosional dalam jangka panjang.9 Sungguh sedih menyaksikan anak-anak yang sedemikian kecil harus menanggung beban yang begitu berat, yang bahkan dapat merenggut hidup mereka. Mereka memerlukan pertolongan segera. Beberapa indikator sederhana untuk mengenali anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik dan emosi, antara lain: Pertama: Apakah anak itu terlihat berbeda dari anak-anak lain, baik itu secara fisik maupun emosi ? bagaimana bentuk fisiknya ? Apakah lebih kecil dari seharusnya, sakit-sakitan ? Bagaimana keadaan emosinya ? Penghargaan dirinya ? Penerimaan dirinya ? konsep dirinya ? Kedua: Apakah anak menunjukkan rasa takut yang berlebihan, enggan berdekatan dengan orang yang seharusnya dekat dengan mereka (orang tua / pengasuh / dan sebagainya) ? Apakah dia menunjukkan keraguan pada waktu bersama dengan para caregiver itu ? Ketiga: Apakah anak memiliki kecenderungan yang ekstrim dalam beberapa atau banyak aspek dalam hidupnya, misalnya: mudah sekali menangis, marah, berkelahi, dan cenderung sensitif, menutupi emosinya dan bersikap tidak peduli kepada lingkungannya ?Keempat: Apakah ada tanda-tanda yang jelas mengenai kekerasan yang dialaminya secara fisik ? seberapa sering hal itu terjadi dan apa reaksinya terhadap keadaan ini ? Kelima: Apakah anak mengalami kesulitan dan berhati-hati terhadap kontak fisik, khususnya dengan orang dewasa ? atau bahkan anak-anak tertentu yang mendapat kekerasan fisik benar-benar merasa haus akan kasih sayang, sentuhan dan pelukan ? Keenam: Apakah terjadi perubahan yang drastis dalam tingkah laku, kebiasaan / keadaan anak-anak ?10
Ada berbagai macam variasi tanda dari seorang anak yang mengalami kekerasan fisik yang mungkin akan kita temui, namun beberapa indikator di atas sangat menolong kita mengenali anak-anak mana yang benar-benar sedang diambang krisis yang perlu mendapat pertolongan kita dengan segera. Kepekaan kita dalam menanggapi gejala-gejala yang ditunjukkan anak-anak itu akan sangat menolong kita memberikan pertolongan tepat pada waktunya - sebelum segala sesuatu terlambat – yang sangat mungkin dapat merenggut jiwa anak-anak tersebut.


PENDEKATAN PERTOLONGAN DENGAN TIM KERJA
Dalam menangani anak-anak yang mengalami kekerasan fisik dan emosional ini, diperlukan pendekatan pelayanan secara tim dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, misalnya: Dokter, perawat, dan fisioterapis (untuk merawat fisik yang terluka), pengacara (untuk mendapatkan keadilan dari sisi hukum), konselor dan psikiater (untuk masalah emosi dan kejiwaan), guru (untuk melayani anak tersebut dari sisi akademik) dan polisi (sebagai eksekutor bagi pelaku kekerasan terhadap anak). Namun di atas semua itu, peran orang-orang terdekat dari anak itulah yang sangat memegang peranan penting proses kesembuhan dan pemulihan dari luka akibat kekerasan fisik dan emosi ini.




MODEL PELAYANAN KEPADA ANAK-ANAK YANG MENGALAMI KEKERASAN FISIK
Anak-anak sangatlah berbeda dengan orang dewasa. Cara mereka menghadapi masalah juga sangat berbeda dan cenderung terbatas. Oleh sebab itu, pendekatan konseling kepada anak-anak pun sangatlah unik dan berbeda daripada konseling kepada orang dewasa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa krisis / masalah yang dialami oleh seorang anak dapat mempunyai dampak yang cenderung bertahan lama dan memiliki efek yang lebih dalam daripada krisis / masalah di masa sesudah anak-anak. Keadaan ini seringkali akan membuat anak itu kurang mampu menghadapi trauma pada masa yang akan datang.11 Oleh sebab itu, pelayanan konseling adalah pelayanan yang krusial dan sangat menentukan keadaan hidup anak di kemudian hari.
Namun pertolongan konseling kepada anak yang mengalami kekerasan secara fisik, apalagi dengan tingkat kerusakan yang sudah sangat parah, tidaklah mudah. Seringkali anak-anak kurang terampil dalam berkata-kata atau tidak memiliki cara yang kreatif (bervariasi) seperti yang dimiliki orang dewasa untuk memecahkan masalah mereka, termasuk masalah kekerasan fisik yang mereka alami.12 Anak-anak umumnya memperlihatkan gejala-gejala tertentu tanpa memahami kaitan gejala itu dengan masalah yang sedang mereka alami. Mereka umumnya bertindak secara naluriah untuk mengungkapkan keadaan mereka yang sebenarnya. Seringkali anak-anak ini melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah mereka, yang cenderung kurang tepat atau bahkan memperparah keadaan mereka. Dan yang lebih parahnya, anak-anak mempercayai apa yang mereka lakukan tepat meskipun mereka mendapatkan akibat yang tidak mereka harapkan. Misalnya: Anak yang mengalami kekerasan di rumah, seringkali melampiaskan kemarahan, ketakutan, dan kegelisahan mereka dengan melakukan kekerasan yang sama di sekolah. Hal ini kadang-kadang timbul secara spontan. Namun seringkali juga merupakan bagian dari pilihan yang salah untuk mengkomunikasikan ketakutan, kegelisahan dan kemarahan mereka di rumah. Konselor perlu hadir untuk menolong anak menyadari bahwa selalu ada pilihan yang lain untuk menghadapi masalah yang sedang mereka hadapi. Konselor perlu menyediakan sarana bagi anak untuk membicarakan ketakutannya dengan orang dewasa karena hal ini akan membuat sang anak sadar bahwa ternyata dia memiliki pilihan lain dalam melihat dan menanggulangi masalahnya.13 Namun ada satu hal yang perlu selalu diingat ketika kita memberi pertolongan kepada anak, yaitu bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa. Oleh sebab itu pendekatan konseling kepada anak adalah pendekatan yang khusus bagi anak-anak pula. Unik hanya untuk anak.




LANGKAH-LANGKAH KONSELING KEPADA ANAK
Langkah Pertama: Perlunya Terapi Keluarga. Untuk menolong anak yang mengalami kekerasan secara fisik, kita perlu melibatkan orang tua di dalamnya. Selain untuk mendapat informasi yang lengkap dan jelas mengenai keadaan anak itu, orang tua seringkali bahkan menjadi sumber kekerasan pada diri anak. Kecenderungan ini sejalan dengan data survei pelaporan tindakan kekerasan pada anak, yang mengindikasikan bahwa pelaku kekerasan pada anak umumnya adalah orang yang paling dekat dengan diri anak itu sendiri. Oleh sebab itu, Konselor perlu juga mengerti beberapa karakteristik orang tua, yang cenderung dapat menjadi orang tua yang melakukan kekerasan pada anak. Dr. Grant L. Martin, seorang Konselor Kristen, mengungkapkan beberapa tanda yang biasanya menyertai orang tua yang abusive. Dr. Martin berkata:
Parents of abused children are often described as being immature, dependent, impulsive, self-centerd, rigid, and rejecteing. They tend to lack nurturing and coping skills and have a history, so they use it as a frequent option. Abusive parents are often socially isolated and distrustful of their neighbors. Many abusive parents had troubled childhoods and learned very early that they could not rely on others for emotional support. As the result they never learned the social skills necessary to form solid realationships with relatives, neighbors, and friends. They seem to reject offers of help, having learned to be suspicious of the good intentions of others. When faced with stressful situation, they feel totally alone and trapped and may react with violent abuse ore neglectful depression.14
Tanda-tanda di atas sebenarnya ingin mengungkapkan betapa rentannya kehidupan keluarga, dengan anggota keluarga (khususnya para ayah) sebagai pelaku kekerasan di dalam keluarga. Hampir dapat dipastikan bahwa orang tua yang melakukan tindakan kekerasan fisik kepada anak adalah seorang yang juga melakukan tindakan yang sama kepada pasangannya (suami / istrinya). Oleh sebab itu, pertolongan konseling bagi orang tua juga merupakan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan untuk menolong keluarga, secara umum, dan anak secara khusus. Keberhasilan terapi keluarga anak sangat mendukung keberhasilan terapi pada anak.
Dalam interview awal dengan orang tua, konselor perlu secara cermat memperhatikan reaksi dan respon orang tua anak yang mengalami kekerasan. Beberapa di antara orang tua menerima dan mengakui bahwa mereka melakukan kekerasan. Namun tidak sedikit yang menolak dan melimpahkan kesalahan kepada anak atau pasangannya. Oleh sebab itu, ada beberapa indikator yang dapat dipakai pada waktu mengadakan interview / kontrak awal dengan orang tua untuk melihat apakah keadaan orang tua yang sebenarnya: Apakah orang tua atau pengasuh anak memberi tanggapan atau menceritakan keadaan anak secara kontradiksi dengan keadaan anak ketika datang atau ketika konseling? Apakah orang tua / pengasuh berusaha menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya, khususnya mengenai keadaan anak (yang mungkin dibawa dalam keadaan terluka, bahkan kritis) ? Apakah orang tua / pengasuh enggan memberi informasi yang mendalam / diperlukan dalam proses konseling / menangani anak secara lebih efektif ? Bagaimana reaksi mereka ? Bagaimana pengulangan keadaan kritis anak (luka / kecelakaan, dll) dalam diri anak ? apakah sering ? atau terus berulang dengan alasan yang dibuat-buat ? Bagaimana reaksi orang tua / pengasuh ketika memberi keterangan mengenai proses terlukanya anak ? Apakah dia sering mencari kambing hitam pada pihak lain ? Bagaimana penjelasan orang tua yang melakukan penundaan ketika membawa anak yang terluka itu untuk mendapatkan penanganan medis ? Bagaimana keadaan keluarga secara umum ? bagaimana hubungan antar orang tua, orang tua – anak ? Apakah ada anggota keluarga yang menjadi pengguna narkoba / kecanduan alkohol ? Apakah orang tua bersedia mengikuti proses konseling untuk menolong dirinya sendiri, dan anak yang sedang dilayani ? Apakah ada penolakan ? Apa penyebabnya ?15
Kekerasan yang dialami anak sangatlah kompleks. Oleh sebab itu, pelayanan kepada anak yang mengalami kekerasan fisik dan emosi ini haruslah mendapat penanganan dari tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan profesi (seperti yang disebutkan di atas). Di Indonesia sendiri, para konselor umumnya mengalami kesulitan untuk berkolaborasi dengan tenaga terampil lain untuk menyelesaikan masalah kekerasan anak. Ketidakpastian secara hukum seringkali membuat upaya pertolongan pada anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik, emosi, dan seksual tidak mendapat penanganan yang memadai.16 Selain itu, konselor harus mendapat informasi yang memadai mengenai anak yang mengalami kekerasan fisik tersebut. Informasi dapat berupa riwayat keluarga, penyebab kekerasan fisik yang dialami, gejala-gejala yang diperlihatkan17
Langkah Kedua: Konseling Anak .Terapi yang paling tepat untuk melayani anak-anak dengan kekerasan fisik dan emosi adalah dengan menggunakan terapi bermain (Play Therapy). Terapi bermain terbukti sangat efektif untuk menolong anak dengan berbagai macam problem khususnya problem emosi, tingkah laku, dan beberapa masalah dalam hidup anak18. Ada banyak media yang dapat digunakan dalam terapi bermain, namun fokus yang paling mendalam dalam terapi bermain adalah menjalin hubungan dan membangun media untuk berkomunikasi dengan anak. Hubungan yang mendalam menimbulkan rasa aman dan percaya antara anak dan konselor. Hal ini saja menjadi semacam langkah awal efek terapeutik dalam diri anak dalam mengenal dan menangani permasalahan yang dihadapinya.19 Beberapa langkah dalam konseling anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik dan emosi lewat terapi bermain.
Pertama: Membangun suasana yang kondusif. Dalam Terapi bermain, anak secara bebas dapat mengeksplorasi diri dan dunianya dengan caranya sendiri dalam perasaan yang aman, nyaman, dan penuh penghargaan-penerimaan, dan saling percaya antara konselor dan anak. Hal-hal ini tentu saja seperti suasana yang diidamkan oleh anak, khususnya anak-anak yang mendapat kekerasan fisik dan emosi secara terus menerus. Keadaan di luar membuat dirinya merasa tidak aman, selalu ketakutan, tidak nyaman, penuh dengan penolakan dan pelecehan. Hal itu menimbulkan berkembangnya rasa sulit percaya anak kepada orang lain, khususnya orang dewasa. Suasana yang kondusif dalam terapi anak akan sangat menolong anak menemukan insight-insight yang akan menolongnya untuk mendapat kesembuhan dari luka dan kehancuran emosi akibat kekerasan fisik dan emosi yang diterimanya selama ini. Media yang digunakan sangatlah bervariatif dan kreatif sesuai dengan kebutuhan dan pilihan bebas anak. Namun demikian, Konselor perlu memberi beberapa batasan sehingga proses konseling dapat berlangsung dengan baik.
Kedua : Proses Konseling anak. Dalam konseling anak dengan menggunakan terapi bermain, ada 6 Fase yang perlu dilewati oleh anak sampai pada tahap ketika anak dipulihkan dan menemukan cara pandang dan tingkah laku yang baru dalam meresponi masalah yang dihadapi.20
Fase pertama : Dengan menggunakan Client Center Psychotherapy. Dalam Fase ini, konselor menjalin hubungan yang dekat dengan anak (dalam suasana yang kondusif) sampai anak merasa aman dan nyaman berbicara dengan konselor. Dalam fase ini, konselor perlu banyak melakukan observasi, memberi feedback, dan menggunakan pertanyaan terbuka untuk menolong anak mengeksplorasi diri dan keadaannya saat itu. Anak yang mengalami kekerasan fisik dan emosional seringkali memerlukan waktu yang lebih dalam proses menjalin hubungan ini. Tahap ini disebut joining. Seringkali di awal pertemuan, anak dengan kekerasan fisik dan emosi ini cenderung menghadirkan perasaan-perasaan negatif terhadap lingkungan barunya; tidak taat, sengaja melawan, sengaja melanggar aturan konselor.21 Semua tingkah laku itu hanyalah cara mereka untuk mempertahankan kestabilan diri karena mereka tidak ingin disakiti lagi oleh orang lain, khususnya orang dewasa. Fase ini sering menyulitkan konselor untuk menjalin hubungan dengan anak bermasalah ini. Diperlukan kesabaran, ketenangan, dan konsistensi yang kuat untuk memenangkan hati anak ini.. Seringkali dalam proses awal ini, anak melakukan resistensi terhadap konselor. Untuk itu ada beberap cara yang dapat dilakukan oleh konselor, yaitu Pertama: Affirmation (menerima dan memberi nilai positif terhadap anak). Kedua: Satiation (menciptakan situasi sehingga anak menyadari tindakan resistensi anak tidak pada tempatnya). Ketiga: Prescribing the resistence (menciptakan situasi yang terbalik dari yang seharusnya sehingga anak ”terpaksa” melepas resistensinya). Keempat: Mirrorring (melakukan apa yang anak lakukan untuk menyadarkannya terhadap tingkah lakunya).22 Anak-anak yang melihat respon yang sangat berbeda terhadap diri mereka, secara perlahan akan membuka diri dan hatinya dan mempercayai konselor karena mereka merasa diterima, dikasihi, dan dimengerti. Pembicaraan berlanjut dengan menggunakan media tertentu (miniatur binatang, gambar, dll) sehingga konselor dapat menangkap masalah utama anak yang menjadi goal dari seluruh proses konseling ini. Beberapa media seperti miniatur binatang, permainan untuk assessment (pin the tail on the donkey, people in the world, dll) dapat menjadi media yang indah.23
Fase kedua: Dalam fase ini, konselor menggunakan gestalt Therapy, yaitu menolong anak untuk menemukan emosi yang mungkin selama ini tersimpan dan disembunyikan, dan mengungkapkan emosi dengan cara yang berbeda dari yang pernah mereka lakukan. Anak-anak dengan kekerasan fisik dan emosi mengalami kekacauan dalam emosi mereka. Seringkali mereka yang sudah mengalami kekerasan fisik dalam jangka waktu yang lama sangat sulit untuk mengekspresikan emosi (misalnya kemarahan dan kesedihan mereka). Hal ini terjadi karena anak yang mengalami kekerasan fisik dan emosi seringkali dipaksa untuk menyimpan emosi dan pendapatnya. Setiap kali mereka mengungkapkan perasaan, mereka akan mendapat kekerasan fisik yang lebih besar. Oleh sebab itu, mereka terbiasa dipaksa untuk mengendapkan emosi mereka. Menolong anak untuk melepaskan emosinya akan sangat menimbulkan efek terapeutik yang besar. Penggunaan boneka sering menjadi media komunikasi yang baik bagi anak untuk memulai mengkomunikasikan perasaan dan emosinya. Media Clay / malam sering menjadi media lanjutan yang efektif dalam fase ini. Anak yang dapat mengekspresikan kemarahannya dengan berteriak, meremas-remas – memukul – meninju – melempar Clay akan memberi efek melegakan bagi diri anak. Perlu diperhatikan, bahwa dalam fase ini, anak seringkali berusaha melakukan resistensi. Gunakan berbagai media untuk menolong anak.Selain itu, konselor dapat menggunakan berbagai game dan aktifitas untuk menolong anak menyalurkan dan mengenali perasaan mereka, misalnya: 3-D Facemask, Mood Faces, Feelings Pie, dan sebagainya.24
Fase ketiga: Dalam fase ini, konselor menggunakan Narative Therapy, yaitu dilakukan dalam beberapa cara: (1) merekonstruksi cerita anak dalam bentuk yang baru. (2) Externalizing. (3) Exception. (4) Scaling question. (5) Miracle question, sehingga anak memiliki pilihan untuk melihat masalah yang dihadapinya dari perspektif yang berbeda dan menolong anak mengerti ada pilihan dan kesempatan untuk berubah. Anak yang mengalami kekerasan fisik dan emosi seringkali merasa tidak ada harapan untuk mengubah keadaan. Fase ini akan menolong anak melihat bahwa selalu ada harapan untuk berubah. Dalam fase ini, anak akan dibangkitkan emosi positifnya dan menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari kehidupannya. Media yang dapat digunakan adalah simbol, clay, dan beberapa aktifitas, seperti: kartu trouble game, darts, comfort kit, dan sebagainya.25
Fase keempat: Dalam fase ini, konselor menggunakan Cognitive Behaviour Therapy, yaitu konselor menolong anak yang mengalami kekerasan secara fisik dan emosi untuk menemukan konsep berpikir yang benar dan memilih tingkah laku yang tepat dari cara berpikir yang benar. Seringkali anak-anak yang terluka secara fisik dan emosi karena kekerasan mengganggap dirinya tidak layak dikasihi, tidak dicintai, tidak berharga, dan pantas menerima semua luka tersebut. Konselor perlu menolong anak mengubah unhelpful beliefs dengan helpful beliefs, bahwa dia memiliki sesuatu yang dapat dikembangkan dan berharga. Media berupa menggambar fruit tree akan sangat menolong anak melihat dan mengkonsep dirinya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Dalam fase ini, anak perlu ditolong untuk meningkatkan motivasi untuk berubah. Aktifitas yang dapat digunakan adalah comfort squares, A Child called…, Zorro reaches the mountains, dan sebagainya.26
Fase kelima: Dalam fase ini, konselor menggunakan Behaviour Therapy, yaitu melatih anak untuk memilih dan melakukan tingkah laku yang baru. Dalam fase ini, ruang konseling dapat dijadikan ruang latihan. Misalnya: untuk anak yang mengalami kekerasan fisik dan emosi mengalami kesulitan untuk bersosialisasi, maka konselor perlu melatih anak memiliki ketrampilan sosial yang lebih baik. Untuk anak yang emosional, sering merusak barang, dirinya, atau orang lain sewaktu marah dapat dilatih cara mengungkapkan emosi dengan cara yang lebih positif dan benar. Permainan yang cocok adalah I Can Help, Practice Makes Perfect, Personal Persuit, dan sebagainya.27
Fase keenam : Fase ini disebut fase terminasi, yaitu fase akhir ketika konselor melihat bahwa konseling telah berhasil dan dapat diakhiri. Untuk mencapai keefektifan yang maksimal, anak harus diberikan ruang lingkup hidup yang baru dan jauh dari kekerasan yang dahulu pernah dialami. Bila kekerasan berlangsung di rumah, anak ditempatkan di tempat lain (di USA dikenal dengan foster Parent) sampai orang tua siap dan sembuh dari keadaan sebelumnya. Itulah sebabnya, untuk menangani anak dengan korban kekerasan fisik dan emosi seperti ini haruslah melibatkan banyak pihak dari berbagai profesi dan disiplin ilmu.




CATATAN PENTING DALAM KONSELING ANAK YANG MENGALAMI KEKERASAN FISIK
Pertama: Respon pertolongan segera. Anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik dan emosi adalah anak-anak yang sedang di dalam krisis yang besar. Oleh sebab itu, penanganan untuk setiap kasus adalah unik dan cenderung berbeda, tergantung berat-ringan atau mendesak-tidaknya sebuah keadaan. Waktu menjadi faktor yang sangat penting dalam menangani anak yang dalam krisis ini. Bahkan beberapa tokoh konseling Kristen mengatakan bahwa tujuh puluh dua jam pertama dari sebuah keadaan krisis merupakan keadaan kritis dan cenderung membahayakan.28 Dalam beberapa kasus kekerasan ini, keterlambatan pertolongan dan reaksi akan berakibat fatal, yang dapat mengakibatkan kematian. Mendatangi anak-anak itu segera akan sangat membantu menjadi pintu awal menyelamatkan anak-anak dari kekerasan selanjutnya. Oleh sebab itu, respon pertolongan segera harus secepat mungkin diambil. Peran tim dalam pertolongan sangatlah penting dan mendesak.
Kedua: Konseling untuk anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik dan emosional dapat dilakukan dalam dua tipe, yaitu konseling krisis (urgent counseling) dan Long Term Counseling. Pemilihan tipe konseling ini tergantung dengan keadaan dan situasi pada waktu itu. Perbedaan antara kedua tipe konseling ini pun cukup signifikan. Dr. Judson J. Swihart, seorang konselor Kristen memberi beberapa perbedaan mendasar yang dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.29








Crisis Counseling – urgent counseling
Long Term Counseling
Focus
Emotionally intensive
Less emotionally intensive
Goals
Restore emotional equilibrium, Problem resolution, Deal with conscious, Focus on immediate
Long term growth, Work through long-standing conflicts, Deal with unconscious, Focus on past, present, and future
Treat
ment moda
lity
Environmental manipulation, Focus on feeling and action, Appointment any hour; undefined length, Directive; early confrontation of unrealistic, perspectives and unproductive behavior, No formal personality diagnosis, Use of many resource of people
Personal change, Focus on introspection, Often scheduled; for one hour, Maybe nondirective;, exploratory; time for building rapport, Often has diagnosis of personality features, Primarily use of one counselor

Ketiga: Hal yang tidak kalah penting adalah rencana follow up setelah konseling dengan anak memasuki masa terminasi. Hal ini akan sangat menolong anak untuk ditolong secara lebih lanjut agar tidak mengalami kekerasan yang sama, yang dialaminya sebelumnya. Follow up juga memikirkan pertemuan secara berkala setelah sesi konseling selesai, memberi lingkungan baru bagi anak (bila lingkungan keluarganya masih tidak kondusif), menunjuk pengasuh baru (bila orang tua menjadi sumber kekerasan dan tidak dapat memberi jaminan keamanan bagi anak), atau kondisi-kondisi baru lain bagi anak, yang dapat menolongnya bertumbuh secara lebih sehat.30




PENUTUP:
Tahun-tahun ini adalah tahun yang sulit dan penuh perjuangan bagi anak-anak. Mereka dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya dan berjuang untuk mempertahankan hidupnya sendiri karena ancaman-ancaman yang bertubi-tubi menyerang mereka. Ketika mereka seharusnya diberi perlindungan, rasa aman, kasih, dan kepeduliaan, anak-anak diserang dan disakiti oleh orang yang justru seharusnya melindungi mereka. Maka haruslah ada orang-orang dewasa yang bangkit dan memperjuangkan hak anak-anak. Diperlukan tangan yang menjangkau anak-anak dalam krisis ini, dan membawa mereka menemukan dunia anak-anak lagi; dunia yang penuh tawa, canda, sukacita, kasih sayang dan perlindungan. Siapapun kita dan apapun profesi kita, Tuhan dapat memakai kita untuk melakukan sesuatu – membangkitkan harapan dan menolong anak-anak dalam krisis ini menemukan hidup mereka kembali. Anak-anak yang mengalami kekerasan adalah anak-anak yang terbelenggu, terikat, teraniaya, lapar akan kasih sayang, telanjang, miskin dan tidak berdaya. Tuhan menantang kita untuk mengulurkan tangan bagi anak-anak yang menderita ini. Bukankah itu yang dirindukan oleh Tuhan dalam Yesaya 58:6-8, ” Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian... Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar...”. Maukah kita mengambil bagian dalam pekerjaan ini ? Tuhan mengasihi kita semua. Terpujilah nama Tuhan selama-lamanya.

DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Allender, Dan B. Hati Yang Luka: Kemenangan atas derita Pelecehan Seksual. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Breire, John N. Child Abuse Trauma. California: Sage Publications Inc, 1992.
Dumas, Jean E. & Nilsen,Wendy J. Abnormal Child and Adolescent Psychology. Boston: Pearson Education Inc, 2003. 
Geldard, Kathryn & Geldard, David. Counselling Children. London: SAGE Publications, 2002.
Hobday, Angela & Ollier, Kate. Creative Therapy with Children & Adolescents California: Impact Publ. Inc, 2003.
Kaduson, Heidi Gerard, The Playing Cure. New Jersey: Jason Aronson Inc, 1997.
Lowenstein, Liana.Creative Interventions For Troubled Children and Youth Toronto: Champion Press, 1999
Martin, Grant L. Counseling For Family Violence and Abuse. Texas: Word Books, 1987.
Moustakas, Clark. Children in Play Therapy. New York: McGraw-Hill Publishers, Inc., 1953Perry, B.D., Mann, D., Palker-Corell, A. and Ludy-Dobson, C. and Schick, S. Child Physical Abuse  in: Encyclopedia of Crime and Punishment Vol 1.(David Levinson, Ed.). London: Sage Publications,
Swihart, Judson J. dan Richardson, Gerard C. Counseling in Times of Crisis. Dallas: Word Inc., 1987.
Wright, H. Norman. Konseling Krisis. Malang: Gandum Mas, 1996.


INTERNET
C. J. Newton, MA, “ Child Abuse: An Overview”, http://www.findingcounseling.com/journal/child- abuse/)
J. Isherwood, K.S. Adams, A.R. Hornblow, dan A.R. Lifte, “Life Even Stress, Psychological Factors,
Suicide Attempt, ad Auto-Accident Proclivit,” Journal of Psychosomatic Research, 26 (1982).
http://www.helpguide.org/mental/child_abuse_physical_emotional_sexual_neglect.htm
http://www.crosscreekcounseling.com/child_abuse.html

LAIN-LAIN
Soesilo, Vivian A. Bahan-Bahan Kuliah / Diktat Kuliah Terapi Anak. Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2008.
Tejalaksana, Rudy. Bahan Training Konselor krisis untuk Korban Tsunami Aceh. Meulabouh, 2005.

END NOTES:
1C. J. Newton, MA, dalam artikelnya Child Abuse: An Overview, memberi data statistik yang cukup mencengangkan. Dia berkata, "1,500 children die from abuse each year. There are 140,000 injuries to children from abuse each year. There are 1.7 million reports of child abuse each year. About 1 in 4 women in North America were molested in childhood. More than 2 million cases of child abuse and neglect are reported each year in the United States. An estimated 150,000 to 200,000 new cases of sexual abuse occur each year. There were an estimated 903,000 victims of maltreatment nationwide. An estimated 1,100 children died of abuse and neglect, a rate of approximately 1.6 deaths per 100,000 children in the general populations. Approximately 1 in 7 males will have been sexually molested before the age of 18." (C. J. Newton, MA, “ Child Abuse: An Overview”, http://www.findingcounseling.com/journal/child-abuse/)
2 Dan B. Allender, Hati Yang Luka: Kemenangan atas derita Pelecehan Seksual ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001) 7-9.
3


4 C. J. Newton, MA, "Child Abuse: An Overview” (baca juga http://www.crosscreekcounseling.com/child_abuse.html)
5 Jean E. Dumas & Wendy J. Nilsen, Abnormal Child and Adolescent Psychology (Boston: Pearson Education Inc, 2003) 335
6 John N. Breire, Child Abuse Trauma (California: Sage Publications Inc, 1992) 7
8 Fakta membuktikan bahwa banyak sekali orang yang melakukan kekerasan adalah orang dewasa yang juga mengalami kekerasan pada waktu kecil. Namun hal ini tidaklah merupakan sesuatu yang pasti demikian. Ada orang dewasa yang melakukan kekerasan meskipun pada masa kecilnya tidak mendapat kekerasan. Demikian sebaliknya ada orang dewasa yang tidak melakukan kekerasan meskipun pada masa kecilnya mengalami kekerasan. Namun para peneliti menemukan bahwa keluarga yang non abusive memiliki hubungan interaksi yang lebih baik dan mendalam dibandingkan dengan keluarga yang abusive. Keluarga non abusive lebih banyak memiliki kesempatan untuk berkecimpung dalam kehidupan sosial dan religi lebih dalam di bandingkan dengan keluarga abusive, sehingga pola positif dalam keluarga mempengaruhi keadaan anak pada masa mendatang. Anak dari keluarga non abusive membangun hidupnya dalam lingkungan yang lebih kondusif, sedang anak dari keluarga abusive cenderung belajar dari pola abusive yang diterimanya dari lingkungannya. Grant L. Martin, Counseling For Family Violence and Abuse, (Texas: Word Books, 1987) 132-133 (coba bandingkan dengan tulisan Jean E. Dumas & Wendy J. Nilsen, dalam buku Abnormal Child and Adolescent Psychology hal 355 -356)
9 Dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kekerasan pada masa kecil, orang dewasa yang memiliki sejarah kekerasan pada masa kecil kemungkinan lebih besar mengalami beberapa problem, antara lain: Anxiety disorders; Chronic head, face or pelvic pain; Eating disorders; Musculoskeletal complaints; Depression; Gastrointestinal distress or symptoms; Asthma or other respiratory ailments; Obesity, Eating disorders; Insomnia; Panic; Sexual dysfunction; Substance abuse; Suicidal ideation or behavior; Pseudo-neurologic symptoms (dizziness, etc.); Unintended pregnancy; Self-injury; Abuse their own children (Effects of Child Abuse on Adults Childhood Abuse - Child Abuse An Overview)
10 Beberapa point dalam bagian ini diambil dari buku Konseling Krisis yang ditulis oleh H. Norman Wright pada halaman 214-215
11 J. Isherwood, K.S. Adams, A.R. Hornblow, dan A.R. Lifte, Life Even Stress, Psychological Factors, Suicide Attempt, ad Auto-Accident Proclivit,” Journal of Psychosomatic Research, 26 (1982), 371-383.
12 H. Norman Wright, Konseling Krisis, (Malang: Gandum Mas, 1996) 199.
13 Ibid. 200.
14 Grant L. Martin, Counseling For Family Violence and Abuse 141-142.
15 Ibid. 144-145.
16 Saya pernah melayani seorang anak yang berusia 13 tahun. Sejak umur 7 tahun dia mendapat kekerasan baik secara fisik, emosi, dan seksual dari ayahnya.. Bahkan ayahnya menjualnya pada teman ayahnya untuk mambayar utang judi ayahnya. Saya berusaha menolongnya, namun kendala yang terbesar adalah saya tidak berdaya untuk melepaskannya dari rumah ayahnya. Sang Anak enggan melaporkan ayahnya karena baginya ayahnya adalah penopang ekonomi keluarga. Bila ayahnya ditangkap, maka keluarga ini akan semakin miskin. Saya melapor ke aparat yang berwajib, namun tidak mendapat tanggapan kecuali saya bersedia membayar aparat itu dengan harga yang tinggi. Bagi saya, keadaan hukum Indonesia yang tidak menentu membuat kekerasan terhadap anak sulit untuk dihentikan. Semoga ada perubahan dikemudian hari.
17 Anak yang mengalami kekerasan secara fisik seringkali menunjukkan gejala perilaku dan emosi yang tidak stabil. Sebagian anak mengalaminya mulai dari masa pra sekolah (agresif, perlawanan, pemberontakan, dan sebagainya). Untuk anak yang lebih besar problem emosional sering menyertai (tidak disukai di sekolah, sering didisiplin karena tingkah lakunya, mendapat penolakan yang berakibat kegagalan secara akademik, keluar dari sekolah, dan meningkatkan resiko sebagai pelaku kejahatan diusia remaja mereka, mengalami kesulitan hubungan interpersonal, depresi yang berkepanjangan dan percobaan bunuh diri (Jean E. Dumas & Wendy J. Nilsen, Abnormal Child and Adolescent Psychology 355)
18 Untuk ide-ide media kreatif dalam konseling dapat dilihat di buku karangan Liana Lowenstein yang berjudul Creative Interventions For Troubled Children and Youth terbitan Champion Press, Toronto tahun 1999.
19 Clark Moustakas, Children in Play Therapy (New York: McGraw-Hill Publishers, Inc., 1953) 1
20 Langkah-langkah konseling anak di atas diambil dari skill yang diajarkan oleh Kathryn Geldard dan David Geldard dalam buku mereka: Counselling Children (London: SAGE Publications, 2002) 87-123
21 Ibid. 7 (Clark Moustakas dalam bukunya Children in Play Therapy halaman 7-8 mengatakan, “ Attitudes of hostility, anxiety, and regression are pervasive n their expression in the playroom. Children are frightened, angry, or immature without definitely focusing their feelingon any partivular person or persons or emotional experiences. They are oftehn afraid of almost everything and everybody and sometimes feel like destroying all people ore merely wish they would be left completely alone, or wish to regress to a simpler, less demanding level of behavior. For example, may express iself by direct attacks on the toys, by smashing, pounding, breaking, by tearing, crushing, and a variety of other actions)
22 Heidi Gerard kaduson dkk, The Playing Cure (New Jersey: Jason Aronson Inc, 1997) 328
23 Lihat Liana Lowenstein, Creative Intervention for Troubled Children and Youth, 3-18
24 Lihat Angela Hobday & Kate Ollier, Creative Therapy with Children & Adolescents (California: Impact Publ. Inc, 2003) 27-37
25 Lihat Liana Lowenstein, Creative Intervention 37-54
26 Lihat Angela Hobday & Kate Ollier, Creative Therapy with Children and Adolescents 39-57
27 Lihat Angela Hobday & Kate Ollier, Creative Therapy with Children and Adolescents 73-88.
28 Judson J. Swihart dan Gerard C. Richardson, Counseling in Times of Crisis, Dallas: Word Inc., 1987) 139
29 Karena keterbatasan tempat, maka detail crisis counseling dan long term counseling tidak dibahas secara mendalam. Apabila saudara ingin mempelajari hal ini secara mendalam, saudara dapat membacanya dibuku Counseling in Times of Crisis, oleh Judson J. Swihard dan Gerard C. Richardson di halaman 140 – 179. Selamat membaca.
30 Untuk konteks Indonesia hal ini masih perlu terus diperjuangkan. Ketidakpastian hukum dan perlindungan bagi anak-anak seringkali membuat pelayanan kepada mereka tidak dapat dilakukan secara maksimal. Diperlukan organisasi atau LSM Khusus yang menfokuskan penanganan pada anak-anak korban kekerasan ini. KomNas HAM Indonesia adalah langkah maju dalam pembelaan terhadap anak-anak ini.

Monday, November 9, 2009

OVERWHELMED BY GOD'S LOVE


God is walking around the world to tell all people that God still cares and loves the world. One day when I was walking along the road in Surabaya (Indonesia), God put HIS word, John 3:16 in my mind. "for God so loved the world, that He gave HIS only and begotten Son, so whoever believe in HIM should not be perish, but will have everlasting life". The verse sounded in my heart over and over. I could feel my heart was warmed by the love of CHRIST. God knew that I was thinking about doing something for my country. At the time, the end of September 2009, I heard from the TV news that an earthquake had just happened at West Sumatera. My tears fell down when I prayed for the victims.  On the TV, I saw 4 children crying and telling the reporter that their parents passed away. My heart was overwhelmed with God's love. I wanted to go and share the love of Christ. Everyday I prayed that God would allow me to go to West Sumatera and share HIS love among the children. It seemed impossible because I had to work and It was hard for me to take my break because there were so many things to do at my work place. But God spoke so clear that I ought to go. For 2 weeks, God spoke so much about HIS compassionate heart. At night, I couldn't sleep, thinking the opportunity to go to West Sumatera. God did listen to my prayers and the desires of my heart for the people. On HIS wonderful time, He allowed me to go to West Sumatera.


            God prepared partners from around Indonesia. I went to West Sumatera with one of my bestfriends. When I arrived, I met friends from Aceh, Medan, Jakarta, and even friends from US. We have the same heart for the little ones there. I clowned around some villages and cities. I went to spread joy, love, and faith in the simple ways. I was so excited to see them laugh, shout, and sing happily. It’s so wonderful to have a great chance to share HIS love. I was clowning, art-ballooning, doing some magic tricks, sharing toys and healthy snacks for all kids. I went to a remote area called Pariaman. Pariaman suffers a serious damage. Most of the dead victims in this province came from this place. When we visited the children at their shelters, we could see how the earthquake broke their heart. We could see the empty eyes. I felt so sad when I saw that kind of heart. When we started our clown ministry, God started to open ways to reach their sadness. The verse “For God so loved the world…. “ came unto my heart that time. “For God so loved these children, that He still sends HIS hands to hold the little ones’ hands”. My heart was so overwhelmed with God’s love when we shared some inspiring stories through ballooning, made them laugh when we started to make jokes, became fool for the kingdom of Christ. It was so wonderful to see them smile and laugh again. Let’s spread the love, joy, and faith to more people to all. We don’t need any wonderful skills to do it. We just need a clear heart, a loving heart, and compassion to those in need around us.  Let’s start to spread love, joy, and faith today!God loves you guys


Rudy Tejalaksana 


Welcome to my joyful blog

Dear all friends,



Hi, thanks for visiting this blog. We made this blog because We want to share love, joy, and faith to all in need. We love to serve and help you, especially children and adolescent, to find the purpose of your life.



If you are in need of someone who listen and care, please contact me. if you need me in private, contact us freely to our email: rudytejalaksana@yahoo.com or contact us through facebook. I want to help you.... please let me know ya.

God loves you, guys